Saya adalah orang yang mungkin lebay (kalo kata teman-teman saya) dalam segala hal. Saya akui, saya memang kadang mendramatisir segala sesuatu. Ya beginilah saya. Sesuatu yang kecil bisa jadi besar, sesuatu yang aidak ada bisa jadi ada.
Bicara soal lebay, mungkin tulisan saya kali bisa dikategorikan lebay :), mungkin loh ya...mungkin juga biasa aja.
Pilihan....Manusia punya hak memilih dalam segala hal, selama bisa mempertanggungjawabkannya, apapun pilihannya itu menjadi hak sepenuhnya pada manusia tersebut. Itu menurut saya dan mudah-mudahan saya benar. Dalam hal memilih, pernahkah teman dihadapi beberapa pilihan dan harus memilih, tidak boleh tidak? Pernahkah teman dihadapi pilihan yang sangat sulit kita ambil tapi kita ♍ăü pilih pilihan itu?
Pernahkah teman disalahkan karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman dimusuhi karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman dibenci karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman tidak dianggap dan dijauhi karena pilihan yang teman pilih? Lalu kenapa kita harus memilih kalau kemudian hanya untuk disalahkan, dimusuhi, diasingkan, dibenci, dan tidak dianggap. Lalu untuk apa pilihan itu diajukan dan untuk apa pilihan itu dipilih?
Bagaimana bentuk sebuah pilihan yang dapat menyebabkan pemilihnya disalahkan, dijauhi, diasingkan? Apa karena pilihannya itu menyakiti orang lain, merugikan orang lain? Lalu bagaimana kalo semua pilihan itu menyebabkan orang lain tersakiti? Bisakah kita tidak memilih? Kalo tetap harus memilih juga, apa yang harus kita pilih?
Kenapa hanya karena pilihan kadang kita harus menderita? Kenapa kadang kita tidak bisa memilih apa yang mau kita pilih hanya karena orang lain? Kenapa kita harus mengorbankan diri kita memilih sesuatu yang tidak ingin sungguh-sungguh kita pilih?
Lalu kapan tepatnya kita bisa memilih pilihan kita tanpa disalahkan, dijauhi, diasingkan, dibenci, tanpa harus menderita dan tidak terbebani karena orang lain? Kapan kita bisa memilih pilihan kita dan bisa mendapatkan kebaikan?
Saya merasa saya mempunyai hak yang sama dalam memilih jalan hidup saya sebagai seorang manusia. Saya mempunyai hak bahagia, senang, dan lain sebagainya. Tapi apakah adil untuk saya kalau karena pilihan saya, membuat saya dibenci, disalahkan, dijauhi? Hanya karena sebagian orang menganggap pilihan saya salah. Sadarkah mereka yang menyalahkan pilihan saya bahwa bukan mereka yang menjalani hidup saya tapi saya. Pernahkah sedikit saja mereka mencari tahu penyebab saya memilih pilihan saya? Pernahkah sedikit saja mereka merenungkan kejadian serupa yang menimpa saya bisa saja menimpa mereka kelak? Pernahkah sebelum mereka memutuskan memusuhi, menjauhi, membenci saya, menyadari bahwa saya hanya seorang manusia biasa yang tidak pernah lepas dari kesalahan?
Setidaknya tidak ada satupun yang satu tutupi dari keluarga saya. Keluarga saya mengetahui semua. Mengetahui pilihan saya, alasan saya memilih pilihan saya dan sebagainya. Dan saya tidak mempunyai kewajiban memberitahukan semua hal dalam hidup saya ke selain keluarga saya termasuk ke sahabat-sahabat saya.
Sahabat, seperti apa sebenarnya bentuk sahabat? Meninggalkan sahabat lain hanya karena sahabatnya melakukan kesalahan? Itukah yang namanya sahabat.
Saya tidak ingin pernah sedikitpun menginginkan meninggalkan sahabat-sahabat saya. Kalo pada akhirnya saya menjauh...itu karena saya tidak ingin membebani mereka dengan masalah-masalah saya, dan saya butuh waktu, tapi bukan berarti saya tidak ingin bersahabat lagi dengan sahabat-sahabat saya. Saya tetap butuh mereka untuk mendukung saya dalam setiap langkah yang saya pilih.
Dan saya begitu sungkan untuk memulai berhubungan kembali karena saya jadi merasa tidak pantas menjadi sahabat mereka.
Bicara soal lebay, mungkin tulisan saya kali bisa dikategorikan lebay :), mungkin loh ya...mungkin juga biasa aja.
Pilihan....Manusia punya hak memilih dalam segala hal, selama bisa mempertanggungjawabkannya, apapun pilihannya itu menjadi hak sepenuhnya pada manusia tersebut. Itu menurut saya dan mudah-mudahan saya benar. Dalam hal memilih, pernahkah teman dihadapi beberapa pilihan dan harus memilih, tidak boleh tidak? Pernahkah teman dihadapi pilihan yang sangat sulit kita ambil tapi kita ♍ăü pilih pilihan itu?
Pernahkah teman disalahkan karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman dimusuhi karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman dibenci karena pilihan yang teman pilih? Pernahkah teman tidak dianggap dan dijauhi karena pilihan yang teman pilih? Lalu kenapa kita harus memilih kalau kemudian hanya untuk disalahkan, dimusuhi, diasingkan, dibenci, dan tidak dianggap. Lalu untuk apa pilihan itu diajukan dan untuk apa pilihan itu dipilih?
Bagaimana bentuk sebuah pilihan yang dapat menyebabkan pemilihnya disalahkan, dijauhi, diasingkan? Apa karena pilihannya itu menyakiti orang lain, merugikan orang lain? Lalu bagaimana kalo semua pilihan itu menyebabkan orang lain tersakiti? Bisakah kita tidak memilih? Kalo tetap harus memilih juga, apa yang harus kita pilih?
Kenapa hanya karena pilihan kadang kita harus menderita? Kenapa kadang kita tidak bisa memilih apa yang mau kita pilih hanya karena orang lain? Kenapa kita harus mengorbankan diri kita memilih sesuatu yang tidak ingin sungguh-sungguh kita pilih?
Lalu kapan tepatnya kita bisa memilih pilihan kita tanpa disalahkan, dijauhi, diasingkan, dibenci, tanpa harus menderita dan tidak terbebani karena orang lain? Kapan kita bisa memilih pilihan kita dan bisa mendapatkan kebaikan?
Saya merasa saya mempunyai hak yang sama dalam memilih jalan hidup saya sebagai seorang manusia. Saya mempunyai hak bahagia, senang, dan lain sebagainya. Tapi apakah adil untuk saya kalau karena pilihan saya, membuat saya dibenci, disalahkan, dijauhi? Hanya karena sebagian orang menganggap pilihan saya salah. Sadarkah mereka yang menyalahkan pilihan saya bahwa bukan mereka yang menjalani hidup saya tapi saya. Pernahkah sedikit saja mereka mencari tahu penyebab saya memilih pilihan saya? Pernahkah sedikit saja mereka merenungkan kejadian serupa yang menimpa saya bisa saja menimpa mereka kelak? Pernahkah sebelum mereka memutuskan memusuhi, menjauhi, membenci saya, menyadari bahwa saya hanya seorang manusia biasa yang tidak pernah lepas dari kesalahan?
Setidaknya tidak ada satupun yang satu tutupi dari keluarga saya. Keluarga saya mengetahui semua. Mengetahui pilihan saya, alasan saya memilih pilihan saya dan sebagainya. Dan saya tidak mempunyai kewajiban memberitahukan semua hal dalam hidup saya ke selain keluarga saya termasuk ke sahabat-sahabat saya.
Sahabat, seperti apa sebenarnya bentuk sahabat? Meninggalkan sahabat lain hanya karena sahabatnya melakukan kesalahan? Itukah yang namanya sahabat.
Saya tidak ingin pernah sedikitpun menginginkan meninggalkan sahabat-sahabat saya. Kalo pada akhirnya saya menjauh...itu karena saya tidak ingin membebani mereka dengan masalah-masalah saya, dan saya butuh waktu, tapi bukan berarti saya tidak ingin bersahabat lagi dengan sahabat-sahabat saya. Saya tetap butuh mereka untuk mendukung saya dalam setiap langkah yang saya pilih.
Dan saya begitu sungkan untuk memulai berhubungan kembali karena saya jadi merasa tidak pantas menjadi sahabat mereka.




1 comments:
Selama pilihannya didahului dgn niat baik (Lillahitaala) dan tulus, go for it. Tapi kalo niatnya ingin mencuri jambu Pak Raden, in stead of memintanya, don't you ever do that. Tapi perlu diingat, mungkin Tuhan akan menguji kesungguhan niat baik kamu tsb.
Post a Comment